Blogger Widgets
Twitter : @Epirogenesa_ | Fb : Efi Pujijayanti

Minggu, 02 Juni 2013

Anugerah terindah dari-Mu

Dia..
Dia telah datang
Membawa ku terbang melayang
Menguras kembali jiwa ku
Membangunkan batako istana
Menggetarkan rasa ini
Aku tak ingin, Tuhan
Sungguh tak ingin untuk kehilangannya
Dia..
Sesosok yang selalu menyinariku
Menerangi setiap langkah kegelapan
Menuju jalan indah menuju-Mu
Terimakasih Tuhan..
Terimakasih telah kau izinkan aku tuk menikmatinya
Menikmati akan anugerah rasa
Yang berhembus mesra bersama angin
Bersama belaian kata darinya
Tiada lagi indah yang lain
Kehangatan serta kerinduan
Terhadap segala ulah
Segalanya dan semuanya
Dia mampu dan dia bisa
Mengubah segala kegelapan ini
Namun, mengapa seperti ini?
Sampai kapankah rasa ini menggebu dan meragu?

Meragu akan anugerah yang Kau beri, dan mungkin akan lenyap.

Tak berdaya tanpamu

Ku dengar nyanyian ini
Nyanyian indah dari surga
Bersama nada ini ku berserah
Tiada lain nan ku jumpa
Hanya di sini tempat ku bersimpuh
Dari segala duka dan luka
Irisan pecah tangisku
Mampu mengumbar do’a pada-Mu
Secerca harapan
Setitik kemauan
Slalu irama ini ku dapat
Beranjak dari peraduan
Laksana jiwa tersesat arah
Jalan nan berliku
Jalan nan berkelok
Bertulis tentang pilihan hidup

Tak bisa..
Tak akan bis aku lewati
Tanpa-Mu bagai kertas diatas air
Tiada daya yang ku punya
Tiada rasa yang kuterima
Pujian beserta harapan
Terbata dari bibir ini
Terucapkan kata-kata ingkar
Terubahkan sebua angan
Jika Kau menghilang
Tak kuasa ku bertahan
Tak berarti ku disini

Karena tanpa-Mu, ku tak berdaya

Setitik harapan

Bersama ukiran ini,
Selalu terselip namamu
Tiada yang mampu menggantikanmu
Tiada yang bisa menandingimu
Pada-Mu lah ku bercurah
Tangis perih hembus nafasku
Tetesan keringat ini
Ku sembahkan untuk-Mu

Percaya..
Kata itu yang saat ini ku genggam
Beralaskan selembar keyakinan
Ku letakkan rasa itu
Beriringan syair surga
Ku sertakan do’a ku
Betapa indah langkahku
Langkah menuju cintamu
Yang selama ini selalu ku nanti
Rasa anugerah itu dari-Mu

Dimana?
Dimanakah akan ku temukan?
Sampai kapan ku akan mencari?
Letih jiwa ini merana
Letih nurani ini meratap

Dan kini..
Ku berhenti sejenak di jalan ini
Aku ingin kembali ke jalan baru
Dan disana ku temukan bayangannya
Inikah jawaban dari-Mu, Tuhan?

Ataukah hanya akan menjadi harapan sirna?

"HIDUP"

Hidup. Semua makhluk punya hak untuk hidup. Semua makhluk punya hak untuk memilih jalan hidup yang akan dipilih. Akan tetapi, lebih dari itu, semua takdir dan nasib yang akan dilalui sudah tercatatat jelas sesuai kehendak-Nya. Namun, bukan berarti kita harus pasrah dengan takdir tersebut, karena Tuhan juga tidak akan mungkin membiarkan makhluknya hanya berdiam diri menunggu jalan takdir. Usaha dan berdo’a, lalu Tuhan yang berkehendak. Ini adalah rincian HIDUP yang saya renungkan berdasarkan jalan saya selama ini. 

Hidup itu.. seperti pisau. Semakin diasah akan semakin tajam. Apabila kita tak berhati-hati dalam menggunakannya, maka pisau itu tak akan segan-segan untuk melukai kita. Namun, jika kita hanya membiarkan pisau itu begitu saja tanpa diasah, maka pisau itu akan dengan mudah berkarat dan sama sekali tak ada kegunaanya. Jadi, jalani hidupmu dengan mengasahnya terus-menerus dan gunakan dengan penuh kehati-hatian agar tak melukai dirimu sendiri ataupun orang lain.


Hidup itu.. seperti buku. Tercipta dengan berlembar-lembar kertas kosong yang bersih. Perlahan kita menuliskan setiap lika-liku di dalamnya. Kadang bisa kita tulis dengan tinta warna hitam, merah, biru, dan apaun warna yang sesuai degan keadaan dan keinginan kita. Meskipun kita terus menulis pada lembaran baru dan meninggalkan lembaran lama, disadari ataupun tidak, ketika kita akan menulis lembaran baru, pasti kita harus melewati tulisan pada lembaran kertas lama dahulu.  Perlu diingat, dengan membaca tulisan di lembaran kertas lama bukan berarti kita akan terpuruk lagi dalam noda lama yang kusam. Jadi, selama kita menulis dalam setiap lembaran baru, jangan pernah melupakan lembaran lama, karena dengan demikian kita akan dapat menulis yang jauh lebih baik dari lembaran lama dalam buku tersebut.


Hidup itu.. seperti permen. Ada yang manis, pahit, asin, asam,  bahkan pedas. Jika permen tak punya rasa pasti tak akan nikmat. Begitu juga hidup, pasti hanya akan monoton dan datar-datar saja. Diibaratkan suatu permen yang berasa asam, tapi didalamnya berisi coklat yang manis. Itu sama halnya dengan hidup, kadang kita menerima keasaman tentang hidup, tapi dibalik itu akan ada suatu kejutan manis yang tak pernah terduga. Jadi, rasakan nikmatnya jalan hidup sesuai pilihan, lalu lihat kejutannya.



Hidup itu.. seperti awan. Terbentuk dari titk-titik air yang mengalami proses panjang hingga membentuk sebuah awan. Dalam proses menjadi awan pasti tidaklah singkat. Dan ketika berada pada proses tersebut, pasti akan bertemu dengan gerombolan-gerombolan awan lain yang kemudian bisa bersatu lalu memisah lagi, ataupun bersatu dan membentuk suatu kesatuan awan yang nantinya akan berjalan bersama hingga pada proses terakhirnya saat meneteskan air hujan yang sangat berguna untuk yang membutuhkan. Jadi, terus berjalan dalam hidup sesuai proses yang sudah ditentukan, dan ikuitu jalan itu hingga ada seseorang yang akan menemukan dan menyatu bersama serta membantu untuk menjalani proses hidup selanjutnya hingga proses itu selesai.