Blogger Widgets
Twitter : @Epirogenesa_ | Fb : Efi Pujijayanti

Kamis, 27 Februari 2014

Karena Kita Adalah API..

Berbondong-bondong kita berlari
Mengayunkan kaki bergandeng tangan
Empat berbeda
Memusatkan kepada tenaga segala makhluk
Gelora yang saling membara
Bertahan dalam panas
Untuk membakar segala risau
Kita beralun setiap fajar hingga senja
Desau angin tak akan pernah mampu memadamkan kita
Karena kita adalah api..
Melahap semua yang ada
Membawa semakin bergelora
Takut, ragu, risau
Semua ikut menjadi butir abu
Api yang membara
Membuat semua makhluk ketakutan
Tak ada yang mampu menyaingi
Tapi.. hanya air
Ia dingin, sejuk, dan menenangkan
Hanya ia yang mampu menghentikan kita
Ya, suatu saat 4 gelora api yang panas ini
Akan diterjang kesejukan dan kenyamanan yang akan memisahkan satu sama lain
Tapi, meskipun suatu saat itu terjadi
Saat ini biarkan asap ini makin mengepul dengan gelora yang melambung

Karena kita adalah api..

Kamis, 20 Februari 2014

Pilihkan Aku Sebutir Padi

Bergelombang rasa di jiwa ini
Ketakutan akan masa depan yang di depan mata
Sesak dalam dada seakan ingin meledak
Angka-angka yang melayang
Berputar mengelilingiku
Sesal akan gerakku di masa lalu
Kini bergejolak meremukkanku
Aku takut, aku ragu, dan aku tak tahu
Kenapa mereka bisa yakin?
Kenapa aku sesulit ini?
Apa yang harus kupilih
Dengan apa yang aku rasakan
Aku hanya memendam segala sesak
Aku ingin menumpahkan semuanya
Ingin ku tuangkan pada seorang jiwa
Jiwa yang bisa menyelimuti dinginku dalam menuju masa depan
Ataukah memang aku harus tentukan sendiri
Tuhan.. apa yang kurang dari sembahku
Aku mencoba untuk selalu dekat denganmu
Untuk slalu bisa kujadikan sandaran
Kumohon Tuhan..
Bantu aku..
Pilihkan aku sebutir padi
Dalam segundukan itu
Akan ku kupas sendiri
akanku olah sendiri

Menjadi jauh lebih berharga dari sebutir padi

(Sudah) Berbeda Pijakan

Hari ini kucoba rangkai kata-kata sederhana
Ku jentikkan jariku, dan ku kirimkan padanya
Hati ini bergemuruh menanti suatu balas
Mata ini mulai sembab dengan bayang-bayang lensanya
Mata yang dulu melihatnya kini berair
Air itu mengalir disamping benda yang dulu menghirup nafasnya
Membekas pada yang dulu dicubitnya
Melewati dua garis yang dulu mengembang senyum
Hingga akhirnya ia jatuh pada lahan yang dulu menjadi pijakanku dengannya
Debu-debu gersang berterbangan
Menjadi selimut menutup kenangan
Kenangan-kenangan dalam kertasnya
Kini suram tanpa dirinya lagi
Bekas jemari yang dulu berirama dalam kisahku
Kini mengering dan hilang
Tak ada pengandaian yang tak bisa berandai
Dengan suatu pengecualian
Tanpanya yang kuandaikan
Bernaung cerita lama yang kini telah hangus
Saat ini, kedua jemari kami tlah renggang
Tak saling bersentuhan
Sudah berbeda angin
Berbeda pijakan
Berdiri sendiri-sendiri dengan senyum masing-masing
Ku harap kita masih akan saling memandang kembali

Meskipun berbeda lahan..

Senin, 10 Februari 2014

Setitik Cahaya Terang







Mentari ini masih sama
Menyilaukan lensa yang bersayu
Sama seperti kemarin
Jiwa dalam raga siap bergegas kembali
Disana.. Di tempat itu..
Berdiri sosok yanng bercahaya
Cahaya yang tidak begitu terang, namun menyilaukan rasa
Cahaya itu  tertuju kepadaku
Aku bisa melihatnya, aku bisa merasakannya
Tapi.. aku tidak bisa menggenggamnya
Warnanya yang berkedip
Kenyamanan yang mendesir
Selalu berganti mengikuti alur
Apakah aku boleh menyimpannya sendiri?
Apakah aku boleh melekatkannya pada sisi gelapku?
Kurasa tidak.. atau iya..
Aku bernafas mengikuti takdir
Akupun menemukan banyak cahaya lain
Lebih terang.. lebih indah..
Bahkan jauh lebih baik darimu
Tapi, seakan gelapku memilih untuk diam
Dan kembali pada cahayamu
Angin bertiup membawa cahaya itu bersinar lagi
Gejolak yang terasa hanya damai bersamanya
Aku ingin berlari kencang
Namun, cahaya itu selalu tepat dibelakangku
Mungkin ia mengejarku
Atau aku yang tak pernah bisa beranjak
Oh.. Penguasa alam
Apa yang sedang kujalani?
Tiba-tiba gelapku pun menipis
Ia tepat bersamaku sekarang
Jiwa ini melambung menikmati sinarnya
Tidak.. bukan itu
Kini aku tlah terjaga
Engkau cukup menjadi mentari
Memberiku cahaya
Cahaya yang kau berikan pada semua yang di bumi
Biarkan ini cukup
Biarkan aku menjadi salah satu titik yang merasakanmu
Biarkan kamu menjadi salah satu cahaya yang menerangiku
Mentariku.
Aku ingin merasakan sinarmu
Tapi tidak untuk menggenggammu

LAGI..

Borgol Kirimanmu

Semakin ke depan, ia tampak semakin kecil
Dan semakin aku mundur, ia tampak semakin besar
Kata-kata yang sering ia katakan, kini membentuk barisan rapi
Barisan  itu membentuk senyum yang menggandengku dengan kelembutan
Mau dibawa kemana aku?
aku hanya menurut maunya
aku tak bisa melawan
semakin lama, barisan huruf itu semakin erat
mereka mulai ganas
mereka menjadi menjadi borgol di tanganku
semakin erat..
semakin kuat..
semakin tak bisa ku lepaskan
tapi, dimana ia?
Mengapa hanya kata-katanya yang bersamaku, bukan ia?
Mungkin ia ada di ujung jalan itu
Menungguku untuk melepaskan borgol ini
Atau mungkin ia tidak ada
Dan akan membiarkanku terborgol seperti ini
Aku masih tetap terikat,
Aku tak bisa melihat tanganku sendiri
Bagaimana bekas yang ditinggalkan ketika borgol itu lepas
Kini masih menjadi ketakutanku
Aku mencarinya, tapi sedikitpun aku tak melihatnya
Lalu bagaimana borgol ini
Baiklah, ku kan berjalan mengikuti jalan ini

Bersama borgol ini yang mungkin suatu saat bisa ku lepaskan sendiri

Ku Titipkan Peti Rinduku pada Hujan

Ketukan nada ini mendengung di telingaku
Suara yang dibunyikan, memberontakkan luka yang hampir kering
Petir itu semakin menggelegar
Menggetarkan sesuatu dalam dada yang telah hancur
Batin ini memanggilnya
Semakin lama semakin menjerit
Gelisah, Gundah,
Semua menderu menjadi satu kesatuan
Mengikat kediaman akan diriku
Tuhan..
Diri ini makin tak kuasa
Menahan rindu yang terkunci dalam peti ini
Aku ingin mengirimkan peti ini padanya, Tuhan..
Peti yang setiap hari kuisi dengan rinduku
Kuikutkan tetesan harapku
Untuk bisa menjadi kesatuan lagi dengannya
Seperti kunci dengan gembok yang tak akan terpisah
Tuhan..
Dia yang dulu kulepas
Kini benar-benar telah jauh tanpaku lagi
Ingin raga ini kembali bersamanya
Kembali menuai bulir rasa yang abadi
Tapi, air hujan memang tak selamanya bisa mengalir bersama titik yang sama
Pada titik-titiknya mereka menetes bersama
Menari di udara dengan satu tujuan yang sama
Tapi.. ketika mereka telah terjatuh
Bukan hal mustahil, jika mereka berada di tempat yang berbeda
Titik-titik air yang telah jatuh
Mengalir dengan titik-titik yang tidak ia temui saat di udara
Namun, semakin lama mereka mengalir
Air itu akan menuju pada sebuah tempat yang ada
Mungkin mereka akan kembali menemui titik yang menemaninya saat udara
Atau mungkin mereka akan bersama dengan titik yang baru di temuinya ketika jatuh
Air itu tidak bisa meminta, dengan titik mana yang akan menemaninya
Ya, memang garis telah digambarkan oleh Sang Pencipta
Saai ini, titik-titik air berada di depan lensaku
Mereka saling berbunyi kegirangan
Menetes..
Mengalir..
Seketika, dalam batin ini berbisik
Air..
Bersama aliranmu, kutitipkan peti rindu ini untuknya..

Kamis, 06 Februari 2014

TAKDIR dan HARAPAN

          Terkadang hidup ini memang penuh liku, tapi itulah yang membuatnya menjadi indah. Karena, jika jala hidup ini lurus, tak akan pernah ada warna dan pasti hanya akan berjalan dengan monoton. Begitu juga dalam urusan cinta. Sebelum kita mendapatkan yang sesuai, pasti kita akan mendapatkansesuatu yang buruk, yang terkadang menyiksa kita. Mengagumi seseorang dan mengharapkannya bersama kita. Hal wajar tapi cukup menguras tenaga. Butuh energi untuk terus berfikir “haruskah aku terus berharap”. Tak ada yang tahu akan berbawa apakah kesabaran ini. Memang kesempurnaan yang ada dalam dirinya bisa membuat kita terus saja terbayang olehnya.dengan  jarak yang begitu sangat jauh, bertatap muka pun dengan keterbatasan waktu. Adakah dia memiliki rasa yang sama, seperti yang kini aku ada dalam hati kita. Cukup terbayang dengan mengenalnya kita bisa menemukan sesosok kita yang sesungguhnya. Namun begitu cepat kita terlepas kembali tanpa ada kata nasihat darinya, kita terpuruk. Merindukan sesosok yang dapat mengayomi kita. Kecuali dia yang tak dapat mengartikan pertemuan itu. Dia yang hanya melihat kesempurnaan tanpa memetik suatu hal yang berguna. Tentu semua hanya akan sia-sia semata. Mengapa kita terus memikirkan hal yang tak pasti? Bukankah itu percuma. Sama saja dengan menyepelekan takdir. Lebih baik kita melakukan sesuatu yang berharga yang saat ini masih bisa kita lakukan, dan anggap saja ini semua demi dia yang kita anggap lebih. Teruslah berjalan ke puncak untuk menggapai cita menuju TAKDIR & melewati HARAPAN :))

Seutas Tali diantara KITA

Ku buka lembar-lembar yang mulai kusut
Tampak gambar dengan senyuman yang mengikat
Raut wajah bak padi yang menguning
Berkerling embun yang terpantul sinar  mentari
Tercium kembali aroma lembut nafasnya
Menyemburkan rindu sepihak yang tak pernah usai
Kata-kata yang terukir dalam ingatanku
Seakan berputar membawa memori lalu

Kesucian rasa yang dulu tak pernah ternoda
Kini musnah karena keputusanku
Apakah aku egois?
Apakah aku yang tak bisa menerima?
Ah.. sungguh aku tak kuasa
Bulir-bulir ini menetes mengarungi kenangan
Mengirimkan sejuta do’a untuk yang ku kenang
Dulu kita berjuang dalam atap yang sama
Di sini kita bertemu..
Di sini kita berjuang..
Hingga saatnya tiba
Kau berkelana menuju citamu
Tapi aku masih di sini
Tidak bersama ikatan yang dulu
Tali ini telah terpisah
Ya, aku yang memotongnya
Karena aku sakit menahan tali yang rusak
Kini aku anggap ini adalah jeda
Jeda untuk saling membenahi dua sisi tali yang rusak
Kemudia esok kita akan menyatukannya kembali
Dengan dua tangan yang saling mengikat bersama..