Blogger Widgets
Twitter : @Epirogenesa_ | Fb : Efi Pujijayanti

Senin, 10 Februari 2014

Ku Titipkan Peti Rinduku pada Hujan

Ketukan nada ini mendengung di telingaku
Suara yang dibunyikan, memberontakkan luka yang hampir kering
Petir itu semakin menggelegar
Menggetarkan sesuatu dalam dada yang telah hancur
Batin ini memanggilnya
Semakin lama semakin menjerit
Gelisah, Gundah,
Semua menderu menjadi satu kesatuan
Mengikat kediaman akan diriku
Tuhan..
Diri ini makin tak kuasa
Menahan rindu yang terkunci dalam peti ini
Aku ingin mengirimkan peti ini padanya, Tuhan..
Peti yang setiap hari kuisi dengan rinduku
Kuikutkan tetesan harapku
Untuk bisa menjadi kesatuan lagi dengannya
Seperti kunci dengan gembok yang tak akan terpisah
Tuhan..
Dia yang dulu kulepas
Kini benar-benar telah jauh tanpaku lagi
Ingin raga ini kembali bersamanya
Kembali menuai bulir rasa yang abadi
Tapi, air hujan memang tak selamanya bisa mengalir bersama titik yang sama
Pada titik-titiknya mereka menetes bersama
Menari di udara dengan satu tujuan yang sama
Tapi.. ketika mereka telah terjatuh
Bukan hal mustahil, jika mereka berada di tempat yang berbeda
Titik-titik air yang telah jatuh
Mengalir dengan titik-titik yang tidak ia temui saat di udara
Namun, semakin lama mereka mengalir
Air itu akan menuju pada sebuah tempat yang ada
Mungkin mereka akan kembali menemui titik yang menemaninya saat udara
Atau mungkin mereka akan bersama dengan titik yang baru di temuinya ketika jatuh
Air itu tidak bisa meminta, dengan titik mana yang akan menemaninya
Ya, memang garis telah digambarkan oleh Sang Pencipta
Saai ini, titik-titik air berada di depan lensaku
Mereka saling berbunyi kegirangan
Menetes..
Mengalir..
Seketika, dalam batin ini berbisik
Air..
Bersama aliranmu, kutitipkan peti rindu ini untuknya..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar