Menyilaukan lensa
yang bersayu
Sama seperti kemarin
Jiwa dalam raga siap
bergegas kembali
Disana.. Di tempat
itu..
Berdiri sosok yanng
bercahaya
Cahaya yang tidak
begitu terang, namun menyilaukan rasa
Cahaya itu tertuju kepadaku
Aku bisa melihatnya,
aku bisa merasakannya
Tapi.. aku tidak bisa
menggenggamnya
Warnanya yang
berkedip
Kenyamanan yang
mendesir
Selalu berganti
mengikuti alur
Apakah aku boleh
menyimpannya sendiri?
Apakah aku boleh
melekatkannya pada sisi gelapku?
Kurasa tidak.. atau
iya..
Aku bernafas
mengikuti takdir
Akupun menemukan
banyak cahaya lain
Lebih terang.. lebih
indah..
Bahkan jauh lebih
baik darimu
Tapi, seakan gelapku
memilih untuk diam
Dan kembali pada
cahayamu
Angin bertiup membawa
cahaya itu bersinar lagi
Gejolak yang terasa
hanya damai bersamanya
Aku ingin berlari
kencang
Namun, cahaya itu
selalu tepat dibelakangku
Mungkin ia mengejarku
Atau aku yang tak
pernah bisa beranjak
Oh.. Penguasa alam
Apa yang sedang
kujalani?
Tiba-tiba gelapku pun
menipis
Ia tepat bersamaku
sekarang
Jiwa ini melambung
menikmati sinarnya
Tidak.. bukan itu
Kini aku tlah terjaga
Engkau cukup menjadi
mentari
Memberiku cahaya
Cahaya yang kau
berikan pada semua yang di bumi
Biarkan ini cukup
Biarkan aku menjadi
salah satu titik yang merasakanmu
Biarkan kamu menjadi
salah satu cahaya yang menerangiku
Mentariku.
Aku ingin merasakan
sinarmu
Tapi tidak untuk
menggenggammu
LAGI..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar